Pages

Selasa, 30 April 2013

Sejarah Tarling

MAKALAH TENTANG TARLING (Dikembangkan dari pemikiran beberapa narasumber dan literatur)

Seni Tarling dan Perkembangannya di Cirebon

A. Pendahuluan
   1. Latar Belakang
Musik-musik daerah yang tersebar di wilayah Nusantara, antara satu daerah dengan daerah yang lainnya memiliki karakteristik yang berbeda/beragam.  Perbedaan tersebut terbentuk, serta dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain karena ; bentuk/wujud instrumennya, cara memainkan serta penyajiannya, alat bahan pembuatannya, dan yang paling utama adalah karena kekhasan pada penggunaan tangga nada yang dimainkannya.  Dari sekian banyak musik daerah yang ada, salah satunya adalah Tarling.
Tarling ini lebih dikenal di pantai Utara Pulau Jawa bagian Barat, tepatnya daerah Cirebon dan sekitarnya.  Tarling adalah salah satu jenis kesenian daerah yang memiliki karakteristik lagu yang unik, baik segi komposisi musik, materi lagu, serta perkembangannya.  Hal itu menyebabkan cukup menarik untuk dijadikan bahan kajian dan penelitian, dalam memahami eksistensinya di lingkungan masyarakat pendukungnya.
Tarling sebagai karya intelektual musik khas Cirebon, memberikan andil mengangkat nilai-nilai budaya cirebon, dalam perkembangannya diperkirakan telah mengalami perubahan bentuk dan cara pengekspresian.  Perubahan tersebut ditandai oleh beragamnya jenis irama musik Tarling, seperti : klasik, tarling dangdut, pop, dan tarling disko. Tarling klasik oleh sebagian pengamat seni Cirebon, dianggap sebagai sebagai musik identitas dan jati diri melodi Kota Udang (sebutan bagi kota Cirebon). Beragamnya musik Tarling yang terus berubah dan berkembang di masyarakat luas, dikhawatirkan mengurangi fungsi identitas, serta mengalami distorsi bentuk yang akhirnya bukan mustahil akan semakin jauh dan kehilangan bentuk aslinya.
Sebagai bentuk kepedulian, wujud kecintaan, serta khawatir akan degradasi di bidang seni musik khususnya musik daerah, penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian terhadap keberadaan seni Tarling sebagai identitas musik daerah Cirebon tersebut. Disamping itu, penelitian ini diharapkan dapat menambah daftar atau studi-studi selanjutnya dan menyadarkan akan kebudayaan Indonesia yang plural.
Daerah Cirebon yang dimaksud di sini adalah daerah bekas Karesidenan Cirebon atau pada zaman Orde Baru biasa juga disebut Wilayah III Cirebon.  Wilayah ini terdiri dari Kabupaten Cirebon, Kotamadya Cirebon, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Kuningan, dan Kabupaten Majalengka.  Namun karena keterbatasan waktu, pengkajian dan penelitian hanya dilakukan di wilayah Cirebon saja.
Tinggi nilai sejarah dan  besarnya potensi budaya yang ada di daerah tersebut menjadi alasan penting kenapa penelitian dilakukan.  Di samping itu di tempat tersebut kesenian Tarling menurut pengamatan penulis masih ada dan berkembang, tetapi keberadaannya kurang mendapat perhatian dari masyarakat pendukungnya sendiri, terutama generasi muda yang nota bene sebagai generasi penerus kesenian Tarling. Disamping itu, kualitas dan kuantitas Tarling yang didukung kondisi budaya yang menghargai tarling, diharapkan dapat mengangkat citra budaya daerah Cirebon. Beberapa permasalahan hasil dari renungan di atas akan berusaha dibedah menggunakan teori-teori antropologi budaya dab fungsinya di dalam masyarakat.

 2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian tersebut di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian, untuk membuat kajian deskriptif analisis tentang Tarling.   Hasil penelitian yang berupa data diharapkan dapat memberi gambaran  tentang seni Tarling.  Untuk itu penulis merumuskan beberapa pertanyaan sebagai kerangka dan fokus berpikir dalam pembahasan sebagai berikut:
  • 2.1. Bagaimana proses perkembangan Tarling di daerah Cirebon?
    • 2.2. Bagaimana Tarling bisa berubah seperti Tarling yang kita kenal saat ini?

3. Tujuan
Rumusan permasalahan dibuat untuk mempertajam kajian atau penelitian mengenai Tarling ini. Penelitian ini memiliki tujuan khusus, yakni:
  • 3.1  Bagaimana proses perkembangan Tarling di daerah Cirebon?
    • 3.2.Bagaimana Tarling bisa berubah seperti Tarling yang kita kenal  saat ini?

4. Metode Penelitian
Penelitian yang mengkaji mengenai Tarling ini bersifat kualitatif. Artinya dinamis dan memiliki potensi untuk berkembang dengan ide-ide baru yang mutakhir. Sugiyono (2010:293) mengatakan:
Dalam penelitian kualitatif, akan terjadi tiga kemungkinan terhadap “masalah” yang dibawa oleh peneliti dalam penelitian. Yang pertaman masalah yang dibawa oleh peneliti tetap, sehingga sejak awal sampai akhir penelitian sama. Dengan demikian judul proposal dengan judul laporan penelitian sama. Yang kedua “masalah” yang dibawa peneliti setelah memasuki penelitian berkembang yaitu memperluas atau memperdalam masalah yang telah disiapkan. Dengan demikian tidak terlalu banyak perubahan, sehingga judul penelitian cukup disempurnakan. yang ketiga “masalah” yang dibawa peneliti setelah memasuki lapangan berubah total, sehingga harus “ganti” masalah.

Denagn demikian, penelitian ini menggunakan pisau bedah Teknik pengumpulan data dengan cara mengumpulkan beberapa literasi terkait dengan kesenian dan musik Tarling. Data awal yang sebagian besar diperoleh melalui berbagai literatur baik berupa internet, tesis, dan buku disintesis untuk selanjutnya direduksi.

B. Isi dan Pembahasan
    1.  Tarling dan Jenisnya
Tarling merupakan salah satu jenis kesenian daerah Cirebon, bercirikan permainan instrumen musik gitar dan suling. Musik dan vokal yang dihasilkan berlaras pelog. Tarling senantiasa akan berubah, seperti yang telah terjadi dan diamati pada beberapa karya seni/musik Tarling, sejak awal perkembangannya hingga sekarang. Pergeseran atau perubahan tersebut, tidak hanya menyangkut materi musik saja, melainkan pada pergeseran minat atau pandangan masyarakat Cirebon terhadap musik Tarling. Kesenian
Tarling saat ini mengalami kesulitan untuk kembali menjadi primadona kesenian dalam masyarakat Cirebon. Kehadiram musik selain musik Tarling, dilain pihak dapat menambah atau memperkaya modifikasi bentuk karya musik Tarling seperti masuknya unsur-unsur asing yang dianggap positif diasimilisasikan ataupun dikawinkan dengan musik Tarling yang telah ada.
Kata Tarling berasal dari singkatan dua buah nama alat musik, yakni : gitar, dan suling. Pengertian Tarling dibawah ini lebih mendekati pengertian Tarling yang lebih lengkap, jika dilihat dari sudut pandang pendekatan sejarah dan teori musik, adalah sebagaimana yang terdapat pada Ensiklopedi Indonesia, yakni :
Tarling : musik tradisional muda khas Cirebon, alat musiknya yang utama terdiri dari gitar dan suling. Singkatan dari gi – tar su – ling inilah asal nama musik Tarling itu. Lagu-lagu yang dimainkan adalah laras pelog yang swarantaranya didekatkan kepada skala diatonik. Dalam nyanyian vokal, laras pelognya tetap dipertahankan seasli mungkin. Dari Ansambel, Tarling lama- kelamaan berkemebang menjadi suatu komedi serta tari-tarian yang sederhana ( Van Hoove :1984 : 3457).

Definisi Tarling yang lain terdapat dalam makalah yang disajikan pada lokakarya “Potensi Kesenian Daerah Cirebon dan Pola Pokok Pembinaannya”, yang diselenggarakan pemerintah Daerah Kabupaten Cirebon, yaitu : ”Tarling adalah kesenian khas daerah Cirebon. Asal kata dari gitar dan suling yang mulai menjadi media hiburan setelah dilengkapi denga waditra lain, seperti : gendang, tutukan, dan kecrek”.
Musik Tarling pada hakikatnya dapat digolongkan menjadi dua  bentuk musik Tarling, yakni :
  • Musik/lagu-lagu Tarling Klasik
  • Musik/lagu-lagu Tarling Irama Cirebon Modern (kreasi baru)
Dari segi irama musik, musik Tarling dapat digolongkan menjadi beberapa jenis: Tarling Klasik, Tarling Tengdung, Tarling Dangdut, Tarling Pop, Tarling Disko, dan Tarling Disko Dangdut.
Pola lagu Tarling Klasik umumnya tetap, namun dalam praktiknya tidak selalu sama persis, karena jenis musik tarling ini memberikan kebebasan untuk improvisasi. Dalam nyanyian ini dibutuhkan kemempuan penyanyi untuk mampu secara kreatif dan berinprovisasi, namun tidak keluar dari pola irama dan melodi khas Cirebon.
    2. Musik/Lagu-lagu Tarling Klasik
Komposisi lagu-lagu Tarling Klasik, pada dasarnya modifikasi dari karya seni karawitan Cirebon. Umumnya, diciptakan dan dimainkan dalam laras pelog, seperti: Kiser Saidah, Cerbonan, Dermayonan. Lagu Tarling Klasik mempunyai bentuk dan pola yang tetap. Umumnya tidak dapat diiringi musik yang dimainkan secara bentuk akor/chord seperti dalam memainkan musik pop lainnya, instrumen gitar dimainkan dalam bentuk petikan dan laras pelog yang didekatkan pada laras diatonis. Walaupun demikian, akan dijumpai beberapa bentuk lagu Klasik Cirebon, seperti : Klasik Malela, yang dapat dimainkan dalam iringan bentuk akor/chord, karena dapat disesuaikan dalam tangga nada minor pada skala diatonis. Warung Pojok, Penganten Baru, Sumpah Suci, Salah Pilih, dan lain-lain adalah contoh lagu-lagu dengan irama musik yang dimodifikasi dan tempo irama di percepat. Contoh lagu Tarling Khas yang cukup terkenal pada awal perkembangan musik ini adalah Kiser Saidah.  Lagu-lagu Tarling Khas Cirebon ini, menjadi dasar pijakan bagi karya-karya musik/lagu jenis tarling Modern (kekinian).

   3. Musik/Lagu Tarling Irama Cirebon Modern (kekinian)
Berdasarkan sumber melodi dan bentuk irama yang digunakan, musik/lagu Tarling Modern terbagi atas dua jenis, yakni: Irama Cirebon Beraturan, dan Irama Cirebon Tidak Beraturan.
a.    Irama Cirebon Beraturan
Lagu-lagu jenis ini, berpijak atau merupakan karya modifikasi dari karya Tarling Klasik ataupun lagu khas Cirebon. Notasi lagu memiliki bentuk yang tetap dan tertulis, syair lagu mulai terarah dan subyektif. Lagu irama Cirebon Beraturan berkembang pada sekitar tahun 1960-an. Contoh lagu jenis ini diantaranya : Warung Pojok, Pengantin Baru, Sumpah Suci, Salah Pilih, dan lain-lain. (lagu “Warung Pojok dapat dilihat pada lampiran).
b.   Irama Cirebon Tidak Beraturan
Lagu-lagu jenis ini dapat digolongkan menjadi dua : Senyawa dengan Irama Cirebon Beraturan, dan Ingkar dari alur budaya (Karawitan Cirebon) atau bersumber dari lagu-lagu popular dimasyarakat luas.
c.    Senyawa dan Irama Cirebon Beraturan
Komposisi lagu jenis ini, lebih dekat dengan lagu gamelan Cirebon. Ia berdiri sendiri. Interval melodi mirip dengan lagu-lagu Karawitan Cirebon
d.   Ingkar dari Alur Karawitan Cirebon
Karya musik/lagu jenis ini tidak dapat dimainkan dengan musik gamelan. Ia berdiri sendiri serta banyak di pengaruhi atau memasukan unsur-unsur asing dari lagu/musik jenis lainnya, terutama musik popular dan dangdut. Lagu–lagu yang tergolong jenis ini diantaranya : Pemuda Idaman, Bisikan Ati, Dewa, Duit, Enakan, Kawin Paksa, dan lain-lain.
Umumnya lagu-lagu tersebut memiliki persamaan dengan lagu-lagu dangdut Indonesia. Kecuali lagu-lagu Tarling Klasik, semua karya musik atau lagu jenis Tarling modern dapat diiringi dengan irama musik : Pop, Dangdut, Bosanova, Reegae, Disco dangdut dan lain-lain.
   4. Perkembangan.
Pada awal masa perkembangannya, seperti yang terjadi di Karang  Ampel Indramayu, Tarling digunakan sebagai pengganti ‘Tayuban’, artinya melibatkan penggemarnya untuk turun ke arena untuk ikut berjoged bersama Ronggeng, sebutan sekarang sinden (Penyanyi). Jika pengemar tersebut senang maka akan memberi imbalan, atau bahasa sekarang sawer.
Abdul Adjid adalah salah satu pemimpin Tarling pada masanya di daerah Cirebon. Beliau memimpin Tarling pada 11 April 1964 dan memiliki pemikiran jika Tarling hanya monoton seperti itu saja, agak kurang menguntungkan masa depannya. Beliau tidak hanya merubah bentuk lagunya saja, tetapi bentuk dramatisasinya. Salah satu contoh bentuk lagu yang menggunakan dramatisasi yang sangat terkenal yaitu Baridin. Lagu tersebut merupakan “Love Story”-nya ala Cirebon. (beliau menganalogikan Romeo dan Juliet gaya Cirebon). Cerita tersebut berawal dari daerah Brebes tetapi berakhir di Cirebon. Secara jujur beliau mengakui bahwa bukan orang pertama dalam kesenian Tarling. Pak Jayana adalah orang yang pertama yang mengembangkan Tarling, hanya saja lagu-lagu yang disajikan oleh Pak Jayana  lagu-lagu yang berpola klasik.  Sedangkan pak Abdul Adjid bertugas di dalam dramatisasinya, dan ternyata hal tersebut diterima oleh masyarakat. Kedua tokoh itu merupakan tokoh penting dalam perkembangan musik tarling di Cirebon dan sekitarnya.
     5. Instrumen Tarling
Gitar dan suling merupakan instrument dasar dalam musik Tarling. Pada awal perkembangan musik ini. Tarling terdiri dari 2 buah gitar dan 1 buah suling bangsing. Selanjutnya, ensambel musik ini berkembang dengan beberapa penambahan instrumen musik lain sebagai pelengkap atau variasi dalam kesenian ini.
Saat ini penggunaan instrumen musik Tarling tidak terbatas pada gitar, suling, gendang, ‘kecrek’/tamborin , goong, dan tutukan. Berikut ini instrumen musik yang dapat digunakan untuk memainkan karya musik Tarling, diantaranya adalah : gitar (gitar melodi (lead) I, gitar melodi (lead) II, bas gitar), suling diatonis, gendang (gendang besar, ketipung), bongo, goong, kecrek, kebluk/tutukan, organ, keyboard, drum & drum digital, micro composser/musik computer, dan lain-lain. semua penambahan setiap instrumen berkembangan mengikuti perkembangan zaman dan kebutuhan lagu itu sendiri.
Gitar yang digunakan dalam ansambel musik tarling, adalah gitar standar internasional, seperti : gitar akustik (folk) dan gitar elektrik. Swarantara atau jarak antara nada satu ke nada berikutnya dalam satu oktaf disamakan dengan laras diatonis. Cara memainkan gitar pada dasarnya sama dengan cara memainkan gitar untuk jenis musik lainnya, kecuali dalam memainkan Tarling Klasik. Karena pada jenis musik Tarling ini gitar dimainkan dengan cara dipetik dalam apoyando dan tirando, tetapi bukan dengan cara strumming/’genjreng’.
Penggunaan askesoris sound efek untuk gitar elektrik diperbolehkan, terutama dalam memainkan karya musik jenis Tarling Modern. Suling yang digunakan dalam musik Tarling adalah suling diatonis, bentuknya miring, di daerah Cirebon telah dikenal dengan nama suling bangsing. Suling ini mempunyai kedudukan seperti vokal. Penggunaan suling ini, mendapat pengaruh dari peninggalan kependudukan Jepang di Cirebon.

keterangan:
Apoyando:  Teknik memetik gitar dengan jari, dengan arah petikan sejajar posisi senar  hingga jari tertahan di senar berikutnya setelah memetik.
Tirando:     Teknik memetik gitar dengan jari, dengan arah etikan menjauhi senar atau   mengayun ke bagian telapak tangan. Juga disebut al aire/free stroke.
Strumming: Membunyikan beberapa senar sekaligus secara serentak dengan menggunakan jari atau plektrum. Teknik ini juga biasa disebut ‘genjrengan’ atau ‘kocokan’.

  6. Bentuk Penyajian
Pada awal perkembangannya Tarling disajikan dalam bentuk yang masih sederhana dan monoton. Lagu-lagu dinyanyikan oleh seorang pesinden dan gitaris. Namun, seiring perkembangan waktu dan berkembanganya pemikiran masyarakat, tarling mengalami metamorfosa secara integral. Umumnya, Tarling ini dimainkan pada malam hari, dan belum menjadi pergelaran pentas. Pergelaran Tarling secara lengkap, biasanya pada siang hari (pukul 10.00 sampai dengan 15.00), dan pada malam hari (pukul 20.00 sampai dengan 03.00 pagi). Adapun susunan acara pergelaran Tarling adalah sebagai berikut :
  • Tetalu
  • Lagu Instrumentalia
  • Lagu-lagu Modern : terutama Tarling Dangdut, dangdut Indonesia, dan lain-lain.
  • Drama humor
  • Drama pokok
  • Penutup.
Acara pergelaran Tarling tidak mutlak disajikan seperti bentuk di atas, yakni di sesuaikan dengan kondisi tempat, waktu dan kebutuhan yang ada. Tentunya pergelaran Tarling di panggung ‘hajatan’ keluarga akan berbeda dengan pergelaran Tarling di radio ataupun televisi dalam siaran hiburan musik yang disiarkan secara lokal atau nasional. Karena televisi atau radio hanya memberikan waktu penyiaran yang sangat terbatas.
   7. Tokoh-tokoh Tarling
Melalui studi kepustakaan, hasil studi lapangan dan beberapa literatur, didapatkan nama-nama tokoh Tarling. Mereka terdiri dari berbagai macam peran dan fungsinya dalam kesenian ini, seperti : penyanyi, pelakon, pemusik, pencipta lagu, penulis skenario, arranger, pelawak, dalang, pembawa acara, dan lain-lain. Mereka tersebar di daerah Cirebon, kabupaten Indramayu, dan Kotamadya Cirebon.
Seniman perintis Tarling, diantaranya : Jayana, Barang, Uci Sanusi, Barnawi, Kurdi, Carini dan lain-lain. Generasi seniman Tarling yang sangat terkenal hasil karya seni Tarling mereka diantaranya adalah Abdul Adjib, dan Sunarto Martaatmaja.
Dibawah ini, nama-nama artis Tarling, yakni :
v  Di kotamadya Cirebon :
    a. Pemusik : Barang, Dasuki, Jana, dan lain-lain.
b. Pencipta lagu : H. Abdul Adjid
c. Penyanyi : H. Abdul Adjid, Uun Kurniasih, Ita Erlita dan lain-lain.
d. Penulis scenario : H. Abdul Adjid.
v  Di kabupaten Cirebon :
a.    Pemusik : kurdi, Cariwan, Askadi, Uci Sanusi, Barnawi, Edi
Muari, Pepen Effendi, Syafii, Juju Panuju dan lain-lain.
b.    Pencipta Lagu : Sunarto MA, Askadi Sastra S, Uci Sanusi,
Pepen Effendi, Kurdi, dan lain-lain.
c. Penyanyi : Sunarto MA, Maman Suparman, Iyeng, Carini, Juju
Panuju dan lain-lain.
d. Pelawak : Bujal, Bunawas, dan lain-lain.
e. Penulis Skenario : Sunarto MA.
v  Di kabupaten Indramayu :
a. Pemusik : Didik Junaedi, Jayana, H. Wakyad, dan lain-lain.
b. Pencipta Lagu : Jayana, H. Dariyah, Yoyo Sunaryo, M. Sadi
dan lain-lain.
c.    Penyanyi : Dadang Durniah, H. Dariyah, Jayana, Carminah,
Yoyo Sunaryo dan lain-lain.
Pada umumnya para seniman atau artis Tarling mempunyai fungsi dan peran ganda atau lebih dari satu peran dalam kegiatan Tarling. Misalnya: Abdul Adjid mempunyai predikat sebagai penyanyi, pencipta lagu, pelakon, sutradara, penulis skenario, ketua group Tarling, pemusik, dan pengamat Tarling.

   8. Fungsi Tarling
Secara umum dapat disimpulkan bahwa Tarling telah berperan dan mempunyai signifikansi besar dalam mengangkat nilai-nilai seni budaya daerah Cirebon.
Beberapa fungsi Tarling yang terangkum secara umum, yaitu :
a. Sebagai sarana hiburan masyarakat Cirebon dan sekitarnya.
b. Sarana pengembangan budaya bangsa melalui budaya lokal
c. Sarana atau media pengenalan atau penggalian nilai-nilai luhur falsafah kehidupan bangsa.  
d.  Sarana untuk menggali bakat seni bagi para pelaku, pewaris, dan masyarakat awam.
e.  Sarana kreatifitas dan inovatif seni budaya
f.   Sarana Profesi seni budaya
g. Sarana atau media penyampaian pesan-pesan pembangunan, baik pembangunan fisik material maupun pembangunan mental spiritual
h. Sarana atau media peningkatan dan pengembangan kualitas berkesenian dan kualitas karya seni masyarakat.
i.   Sarana atau media kontrol sosial masyarakat.
j.   Meningkatkan keterampilan bermusik, dan olah vokal
k.  Secara rohani dan jasmani, dapat menambah dan memberi  rasa damai, senang, gembira, bahagia, puas, serta meningkatkan nilai kemanusiaan.
l.  Meningkatkan kesadaran terhadap diri sendiri, serta kesadaran dalam berhubungan dengan sesama, dengan alam lingkungan, dan dengan tuhan Yang Maha Esa. Dan lain-lain.

Tarling merupakan hasil dari buah pemikiran masyarakat Cirebon mewarnai kehidupan mereka. Fungsi hiburan timbul secara eksplisit dan pada akhirnya mempersatukan kekerabatan mereka       lewat seni itu sendiri. Seiring berkembangnya pemikiran manusia, mereka merasa perlu unutk mengikutsertakan seni kedalam ritual atau bagian dari seremonial.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar